Mengapa Perlu Menggunakan Ekonomi Eksperimental?
Ilmu ekonomi dan psikologi adalah dua bidang yang dalam dekade terakhir ini makin disadari sangat berkaitan satu sama lain. Ilmu ekonomi mendasarkan banyak teorinya pada asumsi-asumsi spesifik mengenai pelaku ekonomi yang rasional dalam proses pengoptimalan alokasi sumberdaya yang langka dan diinginkan untuk memaksimumkan kepuasannya dengan kendala yang dihadapinya. Dengan asumsi-asumsi tersebut para ekonom berusaha untuk menjelaskan dan memprediksi pilihan pelaku ekonomi (economic man). Para psikolog dan peneliti mengkritik asumsi-asumsi ini. Mereka mengklaim bahwa dalam realitas jarang sekali manusia berperilaku seperti yang digambarkan dengan economic man. Perilaku manusia lebih kompleks daripada yang disajikan dalam teori ekonomi ”tradisional”.
Untuk merespons kritik ini, para ekonom makin banyak menggunakan aspek-aspek psikologi atau perilaku untuk menguji dan memperbaiki teori ekonomi dengan metode eksperimen. Metodologi yang mereka gunakan, sekarang ini, dikenal dengan nama ekonomi eksperimental. Perhatian atau minat yang makin tinggi dalam metode eksperimen ini tergambar dalam penghargaan hadiah Nobel pada tahun 2002 yang diberikan kepada Vernon Smith (experimental economist) dan Daniel Kanhneman (behavioral economist). Ketika menganugerahkan hadiah Nobel pada tahun 2002 tersebut, the Royal Swedish Academy of Science mengungkapkan bahwa:
”Today behavioral economics and experimental economics are among the most active fields in economics, as measured by publications in major journals, new doctoral dissertations, seminars, workshops, and conferences”.
Mankiw (2006) juga menulis dalam blog-nya pada tanggal 28 Juni 2006 bahwa ”topik penelitian berikutnya yang hangat setelah teori pertumbuhan adalah behavioral economics, yang mengintegrasikan ilmu ekonomi dan psikologi”. Berkaitan dengan rasionalitas pelaku ekonomi dalam interpretasi hasil-hasil eksperimen, Smith (2005) mengungkapkan bahwa:
”My point is simple: when experimental results are contrary to standard concepts of rationality, assume not just people are irrational, but that you may not have the right model of rational behavior.”Oleh karena itu, para ekonom menyarankan tiap buku teks mikro ekonomi tingkat Sarjana memasukkan topik ekonomi perilaku (behavioral economics) dan ekonomi eksperimental (experimental economics) karena akan memudahkan mahasiswa memahami teori ekonomi (Lombardini-Riipinen dan Autio 2007).
Burkett (2006) berargumen bahwa ekonomi perilaku dan eksperimental perlu dimasukkan dalam undergraduate microeconomics textbook supaya ada keseimbangan antara pokok permasalahan, teori, dan data empiris. Buku teks mikro ekonomi yang konvensional memfokuskan kepada pokok permasalahan dan teori, sedangkan buku teks lanjutan (advanced) hanya memfokuskan kepada teori saja. Data dari studi empiris umumnya sedikit digunakan karena mahasiswa dianggap belum mempunyai atau tidak memerlukan keterampilan ekonometrik untuk memahami pengujian teori dengan data tersebut. Burkett (2006) yakin bahwa pengujian teori melalui data eksperimen dapat diperoleh banyak oleh mahasiswa, sehingga topik tersebut harus dibahas cukup memadai di buku teks mikro ekonomi.
Penggunaan eksperimen (percobaan) di ruang kelas telah didokumentasikan dengan baik, misalnya dapat dilihat dalam Becker et al. (2006). Ada bukti empiris yang menyatakan bahwa mahasiswa yang mengikuti mata kuliah yang ada bagian eksperimennya lebih memahami teori ekonomi dibandingkan dengan mereka yang mengikuti kelas tanpa ada eksperimennya (Emerson dan Taylor 2007; Dickie 2006). Oleh karena itu, mengabaikan fakta-fakta atau perilaku pelaku ekonomi (economic actors) dapat mengurangi motivasi belajar mahasiswa dan karenanya akan mengganggu proses pembelajaran mahasiswa karena merasa terlalu lebar perbedaan teori ekonomi yang disajikan di kelas dengan perilaku yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Ilustrasi Keterbatasan Data Historis dan Data Survei dalam Pengkajian Hubungan Sebab Akibat
Untuk tujuan ilmiah, data hasil eksperimen (dengan desain yang benar) relatif mudah untuk diinterpretasi dalam menyimpulkan hubungan sebab-akibat. Berbeda dengan data hasil survei (happenstance data) atau data sekunder (historical data) yang relatif sulit untuk mendapatkan kesimpulan hubungan sebab akibat (Juanda 2009). Meskipun data sekunder atau hasil survei kemungkinan dapat suatu kesimpulan yang akhirnya disepakati menjadi teori ekonomi, namun umumnya kesimpulan hubungan sebab akibat ini dicapai setelah memakan waktu cukup lama. Sebagai ilustrasi adalah tentang perdebatan antara kelompok ekonom aliran Monetarisme dengan Keynesian sejak tahun 1960-an yang dijelaskan berikut ini.Aliran Keynesian adalah suatu aliran yang percaya bahwa upah dan harga tidak dapat menyesuaikan untuk mencapai kesempatan kerja penuh, dan permintaan agregat menentukan fluktuasi output, serta kebijakan fiskal dapat efektif mengendalikan permintaan agregat. Jadi aliran ini lebih menekankan kebijakan fiskal dari pada moneter untuk mengatasi resesi.
Aliran Monetarisme adalah suatu aliran yang percaya bahwa jumlah uang beredar merupakan penyebab utama fluktuasi ekonomi (output dan kesempatan kerja) terutama dalam jangka pendek, dan pertumbuhan jumlah uang beredar yang stabil akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang stabil pula. Jadi aliran ini lebih menekankan kebijakan moneter dari pada fiskal untuk mengatasi resesi.
Setelah para ekonom melakukan berbagai studi intensif selama beberapa dekade, akhirnya mereka sepakat bahwa baik kebijakan fiskal maupun kebijakan moneter jelas mempengaruhi perekonomian. Jika perumus kebijakan peduli terhadap tingkat output dan juga komposisi output (distribusi atau pemerataan hasil pembangunan), maka kebijakan terbaik biasanya merupakan kombinasi dari kebijakan fiskal dan kebijakan moneter (Blanchard 2006).
Berkaitan dengan perdebatan kelompok ekonom aliran Monetarisme dengan Keynesian ini, Edward Leamer, penulis buku Study Econometrics (1994), pernah menulis artikel “Let’s Take the Con out of Econometrics” di jurnal American Economic Review (1983) yang sempat menggegerkan para pakar ekonometrika. Dalam artikel tesebut, Leamer menyindir Monetarisme dan Keynesian menggunakan cerita perumpamaan yang menarik tentang ‘Luminist vs Aviophile’. Ada sebuah fenomena bahwa hasil-hasil panen dari tanaman di bawah pohon-pohon cenderung lebih tinggi dari hasil panen di lokasi lain. Menurut Aviophiles (ahli burung), hasil ini adalah akibat kotoran atau tahi burung. Berbeda dengan pendapat ini, Luminists (ahli cahaya) berpendapat fenomena tersebut adalah akibat intensitas cahaya. Perselisihan mereka tidak dapat diselesaikan dengan data lapangan atau yang terjadi secara kebetulan (happenstance or field data) karena kedua peubah penjelas tersebut benar-benar terbaur. Artinya naungan pohon (intensitas cahaya) dan kotoran burung terjadi bersama-sama. Oleh karena itu, perselisihan kedua kelompok (Monetarisme vs Keynesian atau Luminist vs Aviophile) tersebut harus dibantu dengan penelitian menggunakan desain eksperimen.
Ilustrasi Perilaku Manusia Lebih Kompleks Dari yang Disajikan dalam Teori Ekonomi Tradisional
Dalam pembahasan perilaku konsumen di buku teks Mikroekonomi umumnya hanya mengkaji preferensi konsumen untuk berbagai kebutuhan barang yang direpresentasikan dalam model fungsi utilitas dan digambarkan dengan kurva indiferens, serta pendapatan konsumen yang direpresentasikan dalam model fungsi anggaran dan digambarkan dengan garis anggaran (budget line). Untuk mencari kebutuhan kombinasi barang yang optimal, konsumen berusaha memaksimumkan kepuasannya (utilitas total) dengan kendala pendapatan yang diperolehnya. Dengan proses optimalisasi ini, akhirnya diperoleh model fungsi permintaan (individu dan pasar) terhadap suatu barang. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah permintaan yang digambarkan dalam model fungsi permintaan ini, umumnya terbatas hanya dalam harga barang yang bersangkutan, harga barang lain, serta pendapatan (daya beli) konsumen.Sekarang ini berdasarkan penelitian-penelitian yang cukup lama dari para ekonom, termasuk dari aspek-aspek psikologi perilaku konsumen, sudah disepakati bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah permintaan terhadap suatu barang sangat kompleks. Hal ini misalnya dapat dilihat dalam Juanda (2003) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah permintaan terhadap suatu barang, diantaranya adalah: harga barang yang bersangkutan, harga barang lain yang berkaitan (barang substitusi atau kompetitor, dan barang komplementer), ekspektasi harga barang di masa mendatang, ekspektasi pendapatan konsumen di masa mendatang, ekspektasi ketersediaan produk di masa mendatang, selera konsumen, banyaknya konsumen potensial, biaya promosi atau iklan, features atau atribut barang, dan lain-lain.
Teori ekonomi tentang pilihan konsumen dalam buku teks umumnya sederhana dan bagus sekali, serta merupakan tahap awal yang layak untuk pengembangan berbagai macam analisis. Akan tetapi dalam banyak kasus, model yang lebih kompleks tentang perilaku konsumen perlu dideskripsikan lebih akurat lagi. Pembahasan ini merupakan cakupan behavioral economics yang memasukkan berbagai aspek psikologi perilaku economic agents untuk menguji dan memperbaiki teori ekonomi, misalnya dengan metode eksperimen. Banyak prediksi pilihan konsumen yang kelihatannya aneh atau berbeda dengan model konvensional tentang pilihan konsumen yang ”rasional” (Varian, 2006).
Prinsip Pendekatan Ekonomi Eksperimental
Ekonomi eksperimental adalah ilmu ekonomi yang menerapkan berbagai metode percobaan (experimental methods) dalam mengkaji berbagai permasalahan ekonomi. Percobaan dapat dilakukan di suatu ruangan atau laboratorium, dan di lapang. Percobaan dapat juga digunakan dalam proses pembelajaran ilmu ekonomi. Data dari hasil suatu perancangan percobaan (experimental design) dikatakan valid apabila memenuhi 3 prinsip dasar, yaitu:1) Ulangan, yang fungsinya untuk :
− Menghasilkan nilai dugaan ragam bagi galat (kekeliruan) percobaan.
− Meningkatkan ketepatan percobaan dengan memperkecil simpangan baku nilai tengah perlakuan.
− Mengendalikan galat percobaan.
2) Pengacakan (randomization). Sebelum percobaan, pengalokasian subjek ke kelompok yang akan dicobakan, ditentukan dengan pengacakan. Dengan pengacakan ini, dapat dianggap bahwa subjek-subjek tersebut hanya berbeda karena faktor kebetulan dalam peubah yang dikaji. Tujuan pengacakan ini untuk mendapatkan dugaan tak bias bagi galat percobaan dan nilai tengah perlakuan.
3) Pengelompokkan (kontrol lingkungan). Peneliti harus mengontrol faktor-faktor lain, yang mungkin mempengaruhi respons (outcome), dengan cara mengusahakan nilai yang sama untuk setiap kombinasi perlakuan. Tujuan pengendalian lingkungan ini untuk mengurangi galat percobaan, sehingga kita lebih yakin untuk menyimpulkan bahwa perbedaan respons diakibatkan karena perbedaan perlakuan. Dengan prinsip yang ketiga inilah hasil kesimpulan penelitian sebab-akibat dengan menggunakan rancangan percobaan relatif lebih baik dari rancangan survei.
Meskipun metode percobaan ini banyak kelebihannya, tapi sampai sekarang masih banyak ekonom yang mempunyai keyakinan bahwa ilmu ekonomi tidak dapat menguji hipotesis atau teorinya dengan melakukan percobaan-percobaan di laboratorium (Davis dan Holt, 1993; Juanda 2009). Persepsi ini muncul karena mereka meng-anggap bahwa karakteristik yang dimiliki pelaku ekonomi sangat beragam dan sulit untuk dikontrol sehingga sulit pula untuk mengambil kesimpulan hubungan sebab-akibat karena adanya confounding variables. Meskipun demikian, para ekonom sepakat menganggap bahwa setiap pelaku ekonomi bertindak rasional, artinya dalam setiap aktifitas selalu mempertimbangkan manfaat yang diperoleh dan biaya yang dikeluarkannya atau berdasarkan struktur insentif dari aktifitas tersebut.
Seiring dengan perkembangan metode eksperimen ekonomi, muncul suatu teori yang disebut induced-value theory yang dikembangkan oleh Smith (1976). Ide dasar dari teori ini adalah bahwa penggunaan media imbalan yang tepat memungkinkan experimenter atau peneliti untuk memunculkan karakteristik pelaku ekonomi tertentu, dan karakteristik bawaannya menjadi tidak berpengaruh lagi (irrelevant). Apabila karakteristik dasar pelaku ekonomi (experimental unit) sama atau homogen maka peneliti dapat melakukan eksperimen karena prinsip dasar ”pengendalian lingkungan” sudah dilakukan.
Tiga syarat cukup untuk memunculkan karakteristik di atas adalah sebagai berikut:
1. Monotonicity. Pelaku percobaan harus selalu menyukai imbalan yang lebih besar.
2. Salience. Imbalan yang diterima pelaku tergantung dari tindakan mereka (dan pelaku-pelaku lain) dalam percobaan sesuai aturan institusi yang mereka fahami.
3. Dominance. Adanya dominansi kepentingan pelaku di dalam pelaksanaan percobaan, yaitu mereka lebih mengutamakan imbalan dan mengabaikan hal-hal lain.
Friedman dan Sunder (1994) mengemukakan bahwa percobaan ekonomi dilakukan di dalam lingkungan yang terkontrol. Lingkungan ekonomi terdiri dari para pelaku ekonomi bersama aturan yang berlaku atau institusi sebagai tempat berinteraksi antar pelaku ekonomi. Pelaku ekonomi mungkin sebagai pembeli dan penjual, dan institusi mungkin merupakan tipe pasar tertentu. Teladan lain dalam bidang politik, misalnya pemilih sebagai pelaku dan aturan mayoritas sebagai suatu institusi.
Dalam percobaan ekonomi diberikan Instruksi percobaan yang terdiri dari deskripsi tentang ketentuan percobaan, pilihan-pilihan dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan subjek penelitian (pelaku percobaan), serta aturan penentuan pemberian imbalan (reward) kepada subjek, yang tergantung pada tindakan mereka (Friedman dan Sunder, 1994).
Lembar instruksi percobaan diberikan kepada subjek penelitian pada saat percobaan akan dilaksanakan sehingga subjek penelitian jelas memahami prosedur percobaan dan aturan yang berlaku. Dalam Instruksi percobaan ini, dapat juga dilengkapi dengan contoh ilustrasi yang sederhana yang akan lebih memperjelas permasalahan bagi subjek percobaan.
Dalam penelitian di bidang ekonomi dengan metode percobaan, kelompok masyarakat yang seringkali menjadi subjek penelitian berasal dari kelompok mahasiswa (Friedman dan Sunder, 1994). Alasan penggunaan mahasiswa sebagai subjek penelitian yaitu:
• Kelompok ini dinilai paling siap untuk masuk ke dalam kelompok eksperimen karena sangat serius dalam melakukan berbagai percobaan atau simulasi di kelas.
• Latar belakang kelompok ini berasal dari kampus, dimana dari kampus inilah sebagian besar peneliti muncul
• Biaya imbangan (opportunity cost) yang rendah. Dari pengalaman berbagai eksperimen yang telah dilakukan penulis, perbedaan nilai Rp 50 juga sangat diperhatikan mahasiswa ketika eksperimen berlangsung; bahkan mereka sangat serius meskipun hanya simulasi dalam proses pembelajaran dalam suatu mata kuliah.
• Merupakan salah satu cara untuk mengurangi pengaruh eksternal yang dapat menjadi variabel pengganggu di dalam penelitian
Daftar Pustaka:
Becker, W.E., M. Watts, and S.R. Becker. 2006. Teaching Economics: More Alternatives to Chalk and Talk. Elgar, Cheltenham.Blanchard, O. 2006. Macroeconomics. 4th editions. Prentice Hall, Upper Saddle River, NJ.
Burkett, J.P. 2006. Microeconomics – Optimization, Experiments, and Behavior. Oxford University Press, Oxford
Davis, D.D. and C.A. Holt. 1993. Experimental Economics. Princeton University Press, Princeton.
Dickie, M. 2006. “Do Classroom Experiments Increase Learning in Introductory Microeconomics?” in Journal of Economic Education. 37(3):267-288.
Emerson, T.L.N. and B.A. Taylor. 2007. ”Interactions Between Personality Type and the Experimental Methods.” in Journal of Economic Education. 38(1):18-35.
Friedman, D and Sunder. 1994. Experimental Metods: A Premier for Economist. Cambridge University Press, Melbourne.
Juanda, B. dan R. Sembel. 1997. “Ekonomi Eksperimental dan Ekspektasi Rasional.” dalam Buletin Ekonomi Vol I, No 1, FE-Universitas Kristen Indonesia, Agustus 1997: hal 29-36.
Juanda, B. 2003. Ekonomi Manajerial. Modul Kuliah. Departemen Ilmu Ekonomi, Bogor.
Juanda, B. 2009. Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis. Edisi 2. ISBN 978-979-493-158-5. IPB Press, Bogor. April 2009. 202 hal..
Juanda, B. 2010. “Ekonomi Eksperimental Untuk Pengembangan Teori Ekonomi dan Pengkajian Suatu Kebijakan”. dalam Orasi Ilmiah, yang diselenggarakan di Auditorium Rektorat, Gedung Andi Hakim Nasoetion Institut Pertanian Bogor pada 25 September 2010 di Bogor.
Lombardini-Riipinen, C. and M. Autio. 2007. Coverage of Behavioral and Experimental Economics in Undergraduate Microeconomics Textbooks. University of Helsinki, Finland.
Mankiw, N.G. 2006. “Behavioral Economics”. In Greg Mankiw’s blog, 28 June 2006. http://gregmankiw.blogspot.com/2006/06/behavioral-economics.html (viewed 18 April 2014).
Varian, H.R. 2006. ”Behavioral Economics”. Chapter 30 in textbook of Intermediate Microeconomics: Modern Approach. 7th editions. W.W. Norton & Company, New York.
Salam,
BalasHapusPenelitian eksperimental ekonomi apa saja ya pak yang telah Bapak lakukan? kiranya bisa saya jadikan referensi untuk memperluas pengetahuan saya mengenai eksperimental ekonomi