TQM – Beberapa Miskonspesi
Sebelum kita mendefinisikan
elemen-elemen TQM, akan lebih bermanfaat jika kita mengenal terlebih dahulu apa
yang bukan TQM. TQM bukan lah beban, TQM tidak dapat diterapkan pada dan untuk
kita. Agar TQM dapat berjalan dengan baik, maka sebuah institusi harus bersedia
memperkenalkannya terlebih dahulu. TQM juga bukan lah inspeksi. TQM adalah
suatu keingninan untuk selalu mencoba mengerjakan segala sesuatunya dengan
“selalu baik sejak awal”. TQM tidak menyediakan kesempatan untuk memeriksa
sebuah kesalahan. Pembicaraan TQM bukan mengenai bagaimana cara mengerjakan
agenda orang lain, melainkan agenda yang telah ditetapkan oleh pelanggan dan
klien. TQM bukan pula sebuah tugas yang hanya di kerjakan manajer senior yang
selanjutnya memberikan arahan kepada bawahannya. Kata “Total” (terpadu) dalam TQM menegaskan bahwa semua anggota dalam organisasi harus terlibat dalam upaya melakukan
peningkatan secara terus-menerus. Kata “Management”
dalam TQM berlaku bagi semua anggota dalam sebuah institusi, apapun status, posisi, atau perannya, adalah manajer bagi tanggung jawabnya
atau pekerjaannya masing-masing. Idealisme TQM tersebut merupakan hal yang
sulit untuk diuraikan, sehingga beberapa organisasi, seperti Roll-Royce, hanya
berbicara tentang Total Quality (mutu
terpadu), bukan TQM.
Program-program
TQM tidak harus menggunakannama TQM. Beberapa organisasi memasukkan filosofi
TQM dengan menggunakan nama mereka sendiri. Boots the Chemist menamkan program
mutu ekstensifnya dengan “Assures
Shopping”, American Express menggunakan istilah “American Express Quality Leadership” dimana organisasi ini lebih
menekankan “kepemimpinan (Leadership)”
bukan pada “manajemen”. Total Quality
Control, Total Quality Service, Continuous Improvment, Strategic Quality
Management, Systemic Improvement, Quality First, Quality Initiatives, Service
Quality adalah sebagian dari beberapa nama yang digunakan oleh beberapa
institusi. Jadi anda dapat memberi nama “The
School Improvement Program” atau “International
School Based on Pancasila and Local Culture” sebagai bentuk dari penerapan
TQM. Namun yang terpenting bukan lah nama, melainkan pengeruh dari program mutu
tersebut terhadap kultur sekolah anda. Pelajar dan orang tua akan lebih
tertarik pada perubahan yang diciptakan oleh sekolah, bukan pada namanya.
TQM
biasanya digunakan untuk mendeskripsikan dua gagasan yang sedikit berbeda namun
saling berkaitan, yaitu: (1) filosofi perbaikan secara terus-menerus, dan (2)
Mendeskripsikan berbagai alat dan teknik, seperti brainstroming dan analisa laporan.yang digunakan untuk membawa
peningkatan mutu. TQM adalah sebuah filosofi tentang perbaikan secara terus
menerus yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap institusi
pendidikan dalam memnuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan para pelanggannya
pada saat ini dan untuk masa yang akan datang (Sallis, 2011: 73). Secara
singkat TQM adalah sebuah pola pikir sekaligus aktivitas praktis.
Perbaikan
Terus-Menerus
Seperti
yang telah diuraikan sebelumnnya, bahwa TQM merupakan sebuah pendekatan
praktis, namun strategis dalam menjalankan roda organisasi yang memfokuskan
diri pada kebutuhan pelangan dan kliennya. Tujuan utamanya adalah untuk mencari
hasil yang lebih baik. TQM bukan sekumpulan slogan, namun sebuah pendekatan
sistematis dan hati-hati untuk mencapai tingkatan kualitas yang tepat dengan
cara yang konsisten dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. TQM dapat
dipahami sebagai filosofi perbaikan tanpa henti hingga tujuan organisasi dapat
dicapai dan dengan melibatkan segenap komponen dalam organisasi tersebut.
Sebagai
sebuah pendekatan, TQM mencarisebuah perubahan permanen dalam tujuan sebuah
orhanisasi, dan tujuan”kelayakan” jangka pendek maupun “perbaikan mutu” dalam
jangka panjang. Institusi yang melakukan inovasi secara konstan, melakukan
perbaikan dan perubahan secara terarah, dan mempraktikkan TQM, akan mengalami
siklus perbaikan secara terus-menerus. Semangat tersebut akan menciptakan
sebuah upaya sadar untuk menganalisa apa yang sedang dikerjakan dan
merencanakan perbaikannya. Seorang manajer harus memiliki kepercayaan terhadap
stafnya dan mendelegasikan keputusan pada tingkatan-tingkatan yang tepat agar
dapat menciptakan kultur perbaikan terus-menerus. Hal tersebut bertujuan untuk
memberikan stafsebuah tanggung jaab untuk menyampaikan mutu dalam lingkungan
mereka. Staf membutuhkan kebebasan bekerja sesuai job descriptions yang sudah jelas dan tujuan organisasi yang sudah
diketahui.
TQM
diwujudkan dalam rangkaian proyek-proyek berskala kecil. Jepang memiliki satu
kata dalam menjelaskan pendekatan perbaikan terus-menerus, yaitu: Kaizen, yang berarti perbaikan sedikit
demi sedikit (step by step improvement).
Filosofi TQM memang berskala besar, inspirasional, dan menyeluruh, namun
implemetasi praktisnya justru berskala kecil, sangat praktis, dan berkembang.
Intervensi drastis tidak sesuai dengan semangat perubahan yang ada dalam TQM.
Skema yang terlalu tinggi tidak akan menimbulkan kemajuan, sebab hal tersebut
sering terjebak pada kurangnya sumber daya, sehingga dapat mengakibatkan
pesimistis dan ketidakpuasan.
Esensi
Kaizen adalah proyek kecil yang
berupayauntuk membangun kesuksesan dan kepercayaan diri serta mengembangkan
dasar peningkatan selanjutnya. Joseph Juran pernah berilustrasi tentang proyek
“besar” dan “kecil”. Beliau berpendapat bahwa metode yang paling tepat untuk
mengerjakan proyek besar adalah dengan membaginya ke dalam pekerjaan-pekerjaan
kecil yang terkendali. Beliau merekomendasikan sebuah tim kerja untuk
memilah-milah proyek besar tersebut menjadi pekerjaan-pekerjaan kecil.
Perubahan yang solid dan bertahan lama didasarkan pada kontinuitas rangkaian
proyek yang kecil dan memungkinkan. Sebuah institusi harus melakukan aktivitas
dengan teliti, step by step proces,
isu demi isu. Dalam jangka waktu tertentu,metode ini lebih berhasil daripada
langsung melakukan perubahan dalam skalabesar. Hal lain yang perlu ditekankan
untuk melakukan perbaikan mutu adalah bahwa implementasi tersebut tidak harus
menjadi proses yang mahal. Menghabiskan banyak uang tidak dengan sendirinya
dapat menghasilkan mutu. Meskipun dalam tahap-tahap tertentu dapat membantu.
Perubahan
Kultur
TQM
memerlukan perubahan kultur. Ini terkenal sulit untuk diwujudkan dan
membutuhkan waktu yang lama. Perubahan kultur tidak hanya mengenai mengubah
perilaku staf, tapi juga memerlukan perubahan dalam metode mengarahkan sebuah
institusi. Ada dua hal yang diperlukan staf untuk menghasilkan mutu, yaitu:
1. Staf membutuhkan sebuah lingkungan yang cocok untuk
bekerja
Mereka membutuhkan alat-alat keterampilan dan mereka
harus bekerja dengan sistem dan prosedur yang sederhana dan membantu pekerjaan
mereka. Lingkungan yang mengelilingi staf memliki pengaruh yang sangat besar
terhadap kemampuan mereka dalam mengerjakan pekerjaannya secara tepat dan
efektif. Diantara cirri-ciri lingkungan yang membantu tersebut adalah sistem dan
prosedur dalam organisasi yang memotivasi dan meningkatkan kerja mereka.
2. Staf memerlukan lingkungan yang mendukung dan
menghargai kesuksesan dan prestasi yang mereka raih
Mereka memerlukan pemimpin yang dapat menghargai
prestasi mereka dan membimbing mereka untuk meraih sukses yang lebih besar.
Motivasi untuk melakukan pekerjaan yang baik adalah hasil dari sebuah gaya
kepemimpian dan dari atmosfir Lingkungan yang dapat meningkatkan kepercayaan
diri serta memberdayakan setiap individu di dalamnya.
Menjaga Hubungan dengan Pelanggan
Misi utama TQM adalah untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggannya. Organisasi yang unggul (negeri
maupun swasta) adalah organisasi yang “menjaga hubungan dengan pelanggannya”
dan “memiliki obsesi terhadap mutu” (Peters dan Waterman). Mereka mengakui bahwa
pertumbuhan dan perkembangan sebuah institusi bersumber dari kesesuaian layanan
institusi dengan kebutuhan pelanggan. Mutu harus sesuai dengan harapan dan
keinginan pelanggan. Mutu adalah sesuatu yang dinginkan pelanggan dan bukan apa
yang terbaik menurut institusi. Tanpa pelanggan, tidak ada institusi.
Organisasi
TQM memerlukan strategi yang berjalan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Lembaga pendidikan menghadapi tantangan yang cukup besar dalam hubungannya
dengan para pelanggan eksternal. Sebagian besar pelanggan pada mulanya tidak
menerima informasi yang cukup tentang layanan yang ditawarkan dan hal apa yang
mengindikasikan mutunya. Selain itu, berbagai harapan para pelanggan sangat
beraneka dan kadangkala bertentangan satu sama lain. Tantangan selanjutnya
adalah para pelanggan pendidikan memainkan peranan yang penting dalam mutu
belajar mereka masing-masing. Pelanggan memiliki fungsi yang unik dalam
menentukan mutu apa yang mereka terima dalam pendidikan. Ada beberapa masalah
menyangkut gagasan konsistensi dalam proses belajar interaktif. Untuk mengatasi
beberapa masalah tersebut, diperlukan adanya suatu motivasi terhadap para
pelajar dan staf (tenaga pendidik dan kependidikan) yang melayani mereka. Hal
penting lainnya adalah memperjelas apa yang ditawarkan institusi dan apa yang
diharapkan pelajar (pelanggan).
Aspek
fokus pelanggan TQM tidak hanya melibatkan perlunya pemenuhan kebutuhan
pelanggan eksternal. Kolega dalam institusi juga merupakan pelanggan, yang
memerlukan pelayanan internal agar mereka mampu melaksanakan tugasnya sevara
efektif. Setiap orang yang bekerja di semua jenjang lembaga pendidikan
merupakan penyedia jasa dan sekaligus pelanggan. Hubungan antar pelanggan
internal sangatlah penting agar sebuah institusi berfungsi secara efektif dan
efisien. Metode terbaik untuk mengembangkan fokus pelanggan internal adalah
membantu setiap anggota agar mampu mengidentifikasikan para penerima jasa
mereka. Ini dikenal sebagai “analisa antrian jasa” dan berkisar seputar
pertanyaan berikut:
- Siapa orang yang paling utama anda layani?
- Siapa yang bergantung pada anda agar tugas mereka dapat berjalan dengan baik dan tepat?
Daftar orang yang berada
dalam antrian jasa merupakan pelanggan langsung anda, baik apakah mereka di
luar maupun di dalam institusi. Hal penting yang harus anda lakukan adalah
mengetahui apa yang mereka inginkan serta memiliki ide yang baik tentang standar
yang mereka butuhkan. Standar tersebut memang sangat mengikat, namun juga dapat
dinegosiasikan. Gagasan-gagasan tentang status dan hirarki tidak ada dalam
hubungan ini. Standar jasa yang disediakan untuk pelajar sama pentingnya dengan
jasa yang diberikan kepada guru maupun kepala sekolah.
Profesionalisme
dan Fokus Pelanggan
Ada
dimensi lain tentang tenaga kerja professional dalam pendidikan secara
tradisional melihat diri mereka sendiri sebagai pelindung dari mutu dan standar
institusi. Penekanan TQM pada kedaulatan pelanggan dapat menyebabkan konflik
dengan berbagai konsep professional tradisional. Ini merupakan masalah yang
rumit dan menjadi sesuatu yang perlu dipertimbangkan oleh institusi pendidikan
yang menggunakan prosedur mutu terpadu. Pelatihan guru dalam konsep-konsep mutu
merupakan elemen penting dalam upaya mengubah kultur. Staf harus paham
bagaimana mereka dan muridnya dapat memperoleh manfaat dari focus terhadap
pelanggan. Mutu terpadu bukan sekedar “membuat pelanggan senang dan tersenyum”.
Mutu terpadu adalah mendengarkan dan berdialog tentang kekhawatiran dan
aspirasi pelanggan. Aspek terbaik dari peran professional adalah perhatian
serta standar akademi dan kejuruan yang tinggi. Memadukan aspek terbaik dari
profesionalisme dengan mutu terpadu merupakan hal yang esensial untuk mencapai
sukses.
Setiap peserta didik memliki
karakteristik belajar yang berbeda-beda. Mereka belajar dengan model yang
sesuai dengan kebutuhan dan kecenderungannya masing-masing. Institusi pendidkan
yang menggunakan prosedur mutu terpadu harus mampu menangkap secara serius
isu-isu tentang gaya dan kebutuhan belajar mereka untuk menciptakan strategi
individualisasi dan diferensiasi dalam kegiatan pembelajaran. Peserta didik
adalah pelanggan utama lembaga pendidikan. Jika model pembelajaran yang
diberikan tidak memenuhi kebutuhan mereka, maka institusi tidak dapat mengklaim
bahwa ia telah mencapai mutu terpadu.
Institusi pendidikan memiliki
kewajiban untuk membuat peserta didik sadar terhadap variasi metode
pembelajaran yang diberikan kepada mereka. Seperti yang diungkapkan Miller,
Dower, dan Innis dalam bukunya “Improving
Quality in Further Education”, bahwa berbagai institusi pendidikan harus
memberikan beberapa model pembelajaran terhadap para pelajar, sehingga mereka
memilih kesempatan untuk meraih sukses secara maksimal. Institusi pendidikan
harus member kesempatan kepada peserta didik untuk mencontoh pembelajaran dalam
variasi model yang berbeda. Beberapa peserta didik mungkin ada yang suka ada
kombinasi beberapa gaya belajar dan institusi harus bersikap fleksibel dalam
memberikan pilihan tersebut.
Institusi pendidikan harus
siap untuk melakukan langkah-langkah perbaikan terhadap kinerja pelajar yang
belum sesuai dengan harapan dan keinginan mereka. Meskipun bukan pekerjaan yang
mudah, namun hal tersebut dapat menjadi pengalaman yang emosional dan membawa
perubahan yang tak terduga. Langkah-langkah perbaikan tersebut memiliki tujuan
untuk memberikan motivasi dan pengalaman praktik kepada peserta didik tentang
penggunaan TQM yang dapat menyesuaikan diri dalam situasi apapun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar dengan Bijak