Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Minat
Menurut TRA (Theory of
Reason Action) yang dikembangkan oleh Ajzen dan Fishbein, ada dua faktor
yang mempengaruhi minat individu untuk melakukan sebuah perilaku (behavioral)
yaitu sikap (attitude) dan norma subyektif (subjective norms).
Sikap merupakan refleksi perasaan suka atau tidak suka terhadap suatu perilaku/
kegiatan/ objek tertentu. Sedangkan, norma subyektif (subjective norm)
merupakan persepsi atau pandangan seseorang terhadap kepercayaan-kepercayaan orang-orang yang ada di
dalam kehidupannya atau di lingkungan kerjanya yang akan
mempengaruhi minat seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku/
kegiatan atau memiliki objek yang sedang dipertimbangkan. Mengacu pada persepsi
individu bahwa kebanyakan orang yang paling penting baginya adalah harus atau
tidak harus seseorang melakukan perilaku yang bersangkutan (Fathinah dan
Baridwan, 2012: 6).
Theory of Reason Action akan
muncul masalah jika diaplikasikan pada perilaku yang tidak sepenuhnya di bawah
kendali seorang individu tersebut. Individu dapat memiliki kendali sepenuhnya
ketika tidak terdapat hambatan apapun untuk menampilkan suatu perilaku. Namun
sebaliknya, individu tersebut mungkin tidak memiliki kemungkinan untuk
menampilkan suatu perilaku karena tidak adanya kesempatan, kemampuan,
keterampilan, informasi, atau bahkan situasi dan faktor-faktor lingkungan yang
tidak mendukung individu untuk menampilkan suatu perilaku (Achmat, 2010: 4).
Berdasarkan permasalahan tersebut,
Ajzen memodifikasi Theory of Reason Action dengan menambahkan anteseden
intensi yang ketiga yang disebut perceived behavioral control (PBC) dan
merubah nama teorinya menjadi Theory of Planned Behavior (TPB). PBC
menunjuk suatu derajat dimana seseorang merasa bahwa tampil atau tidaknya suatu
perilaku yang dimaksud adalah di bawah pengendaliannya (Achmat, 2010: 5). Jadi,
dapat dikatakan bahwa guru cenderung tidak akan membentuk suatu minat yang kuat
untuk melakukan penelitian tindakan kelas jika guru tersebut percaya bahwa
dirinya tidak memiliki kemampuan, keterampilan, atau kesempatan untuk
melakukannya meskipun dirinya memiliki sikap yang positif dan percaya bahwa
kepala sekolah, rekan guru lainnya, dan orang-orang penting lainnya akan menyetujuinya.
Penelitian yang dilakukan oleh
Handayani (2005) dan Jati dan Laksito (2012) menjelaskan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi minat pemanfaatan dan penggunaan sebuah sistem atau teknologi
informasi adalah ditentukan oleh ekspektasi kerja, ekspektasi usaha, dan faktor
sosial. Tiga faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Ekspektasi
kinerja (performance expectancy) merupakan tingkat dimana seorang
individu meyakini bahwa dengan menggunakan sistem akan membantu dalam meningkatkan
kinerjanya. Konsep ini menggambarkan manfaat sistem bagi pemakainya yang
berkaitan dengan perceived usefulness, motivasi ekstrinsik, job fit,
keuntungan relatif (relative advantage) (Venkatesh, at al.,
2003). Hasil penelitian Bandyopadhyay dan Fraccastoro (2007) menyatakan bahwa
konstruk ekspektasi kinerja merupakan prediktor yang kuat dari minat
pemanfaatan teknologi informasi dalam keadaan sukarela maupun wajib.
2. Ekspektasi
usaha (effort expectancy) merupakan tingkat kemudahan penggunaan sistem
yang akan dapat mengurangi upaya (tenaga dan waktu) individu dalam melakukan
pekerjaannya. Kemudahan penggunaan teknologi informasi akan menimbulkan
perasaan minat dalam diri seseorang bahwa sistem itu mempunyai kegunaan dan
karenanya menimbulkan rasa yang nyaman bila bekerja dengan menggunakannya
(Venkatesh dan Davis 2000). Hasil penelitian Bandyopadhyay dan Fraccastoro
(2007) membuktikan bahwa ekspektasi usaha berpengaruh signifikan positif
terhadap minat pemanfaatan teknologi informasi meskipun dengan pengalaman yang
terbatas. Hal ini konsisten dengan penelitian Venkatesh, at al. (2003),
dimana ekspektasi usaha mempunyai hubungan yang signifikan dengan minat
pemanfaatan teknologi informasi hanya selama periode pasca pelatihan tetapi
kemudian menjadi tidak signifikan pada periode implementasi.
3. Faktor
sosial diartikan sebagai tingkat dimana seorang individu menganggap bahwa orang
lain menyakinkan dirinya bahwa dia harus menggunakan sistem baru. Faktor sosial
ditunjukkan dari besarnya dukungan rekan kerja, atasan, dan organisasi. Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Thompson, Higgins, dan Howell (1991) menemukan
hubungan yang positif dan signifikan antara faktor-faktor sosial dengan minat
penggunaan sistem, dimana faktor-faktor sosial ditunjukkan dari besarnya
dukungan teman sekerja, manajer senior, pimpinan, dan organisasi. Namun, hal
berbeda ditunjukkan oleh hasil penelitian Jati dan Laksito (2012) yang
menyatakan bahwa faktor sosial tidak memiliki pengaruh positif terhadap minat
penggunaan sistem.
Pelatihan Penelitian Tindakan
Kelas
Minat individu terbentuk melalui faktor pengalaman
dan pembawaan yang berinteraksi secara terus menerus dengan kehidupan individu
tersebut, bukan terjadi sejak lahir. Proses pembentukan minat berkaitan erat
dengan menetapkan ketertarikan atau ketidaktertarikan individu terhadap suatu
kegiatan atau objek yang terjadi sebagai akibat dari berbagai pengalaman dan
informasi yang diperoleh. Pelatihan penelitian tindakan kelas merupakan faktor
pengalaman yang berinteraksi langsung dengan guru yang dapat dijadikan sebagai
proses pembentukan minat guru dalam melakukan penelitian tindakan kelas, berdasarkan
atas pengalaman dan informasi yang pernah diperoleh atau dipelajari guru
setelah mengikuti pelatihan. Pengalaman dan informasi inilah yang nantinya dapat
membentuk ataupun mengembangkan minat guru dalam melakukan penelitian tindakan
kelas, seperti yang telah dijelaskan dalam Theory of
Reason Action.
Sastrodipoero dalam Kamil (2010: 152) mendefinisikan
pelatihan sebagai salah satu jenis proses pembelajaran untuk memperoleh dan
meningkatkan keterampilan di luar sistem pengembangan sumber daya manusia, yang
berlaku dalam waktu relatif singkat dengan metode yang lebih mengutamakan
praktik daripada teori. Pelatihan dimulai dengan orientasi yang merupakan suatu
proses pemberian informasi dan pengetahuan kepada peserta. Pelatihan
menciptakan suatu lingkungan bagi para peserta untuk memperoleh atau
mempelajari sikap, keahlian, dan perilaku yang spesifik sesuai dengan kebutuhan
peserta. Pelatihan juga memberikan instruksi untuk mengembangkan
keahlian-keahlian yang dapat langsung digunakan pada peserta.
Keberhasilan atau kegagalan sebuah pelatihan akan
berdampak pada minat peserta untuk mempelajari suatu kegiatan dan berusaha untuk
menguasainya atau tidak. Menurut Sulistiyani dan Rosidah (2003: 177) kualitas
pelatihan sangat tergantung pada kemampuan penatar untuk merencanakan,
mengorganisasikan, menyelenggarakan, dan mengevaluasi program pelatihan.
Penatar sebaiknya berasal dari konsultan pelatihan swasta atau perguruan tinggi
yang kompeten, karena belum tentu penatar dari pegawai senior yang dianggap
produktif dalam bekerja mampu untuk menjadi penatar yang kompeten.
Berdasarkan kenyataan yang terjadi di lapangan,
diketahui bahwa pelatihan-pelatihan penelitian tindakan kelas yang pernah
diadakan hanya sebatas memberikan penanaman terhadap konsep
dasar penelitian tindakan kelas saja. Hal tersebut dibuktikan melalui hasil
wawancara Nitiasih at al. (2010: 255) dengan guru di Provinsi Bali yang
pernah mengikuti pelatihan. Hasil wawancara tersebut menyatakan bahwa guru
kurang diberikan kesempatan untuk mempelajari secara sistematis dan terkendali
tentang berbagai masalah pembelajaran yang dihadapi dalam kesehariannya. Guru
kurang dilatih tentang cara-cara mendiagnosis masalah pembelajaran sendiri,
menemukan penyebab utama masalah, dan melakukan terapi terhadap masalah
pembelajarannya secara sistematis, terkendali, serta terprogram, guru kurang
diberikan kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap pembelajarannya sendiri.
Model pelatihan tersebut
mengindikasikan bahwa instruktur hanya mentransfer pengetahuan tentang
penelitian tindakan kelas kepada peserta, dan selanjutnya guru memparaktikan
menyusun proposal. Model pelatihan seperti itu belum sepenuhnya dapat melatih
kemampuan reflektif guru dan kompetensi merencanakan penelitian tindakan kelas
untuk memperbaiki kualitas pembelajarannya, sehingga belum dapat mengembangkan
minat guru untuk melakukan penelitian tindakan kelas. Seperti yang disampaikan
oleh Sulistiyani
dan Rosidah (2003: 177), bahwa kegagalan pelatihan dapat disebabkan oleh human
error, seperti pelatih/ penatar, metode yang digunakan, keterbatasan
fasilitas utama, maupun situasi.
Beberapa peneliti telah berusaha untuk menemukan
model pelatihan dan pendampingan penelitian tindakan kelas yang dapat meningkatkan
kemampuan guru dalam menyusun penelitian tindakan kelas dan mengembangkan
profesionalisme guru, diantaranya yaitu Wardono dan Nitiasih at al.
Wardono (2011: 369) menyatakan bahwa model manajemen pelatihan dan pendampingan
Continuous Professionalism Development penelitian tindakan kelas dengan
melakukan langkah-langkah manajemen dalam fungsi perencanaan pelatihan, fungsi
pelaksanaan pelatihan, dan fungsi penilaian program pelatihan secara teori
dapat meningkatkan profesionalisme guru matematika SMP. Nitiasih at al
(2010: 264) merekomendasi para penyelenggara pelatihan untuk menggunakan model
pelatihan reflektif dengan sintaks: (a) receive knowledge (pemberian
informasi), b) previous experiencial knowledge (refleksi), (c) practice
(d) reflect (refleksi), (e) proffesional competence (perbaikan
proposal) dalam melakukan pelatihan penelitian tindakan kelas untuk guru-guru
di SD, SMP maupun di SMA karena secara teori dapat meningkatkan kemampuan guru
dalam menyusun proposal penelitian tindakan kelas.
Berdasarkan temuan-temuan penelitian terdahulu
tersebut, maka dalam mengadakan kegiatan pelatihan tindakan kelas memerlukan
strategi menajemen yang lebih menekankan pada kegiatan bersama dan/ atau orang
lain, baik perorangan maupun kelompok demi tercapainya tujuan pelatihan
tersebut. Strategi menajemen tersebut dilakukan melalui fungsi-fungsi
perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, pembinaan, penilaian, dan
pengembangan pelatihan, atau dapat disingkat menjadi perencanaan, pelaksanaan,
dan penilaian pelatihan (Sudjana, 2007: iii).
Setiap progam pelatihan memiliki tahapan-tahapan
yang harus dilakukan untuk tercapainya tujuan pelatihan itu sendiri. Barnardin (2010:
249) menyatakan bahwa program pelatihan harus memiliki tiga tahap aktivitas
yang saling berurutan, yaitu:
1. Penilaian kebutuhan
pelatihan (need assesment)
Penilaian kebutuhan pelatihan merupakan proses
penentuan kebutuhan pelatihan yang dilakukan secara sistematis dan objektif
dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam menentukan
apakah program pelatihan yang akan diadakan dibutuhkan atau tidak. Keputusan
menyelenggarakan pelatihan harus berdasar pada data yang dihimpun dengan
melakukan suatu penilaian kebutuhan pelatihan. Tipe analisis yang digunakan
untuk mengumpulkan informasi tersebut terdiri dari:
a. Analisis organisasional,
digunakan untuk mengetahui permasalahan mengenai penekanan pelatihan yang
seharusnya dilakukan dan faktor-faktor yang seharusnya dilakukan dan faktor
yang mempengaruhinya.
b. Analisis pekerjaan,
digunakan untuk mengetahui apa yang seharusnya dipelajari dalam pelatihan
sehingga para peserta pelatihan dapat menjalankan tugasnya dengan memuaskan.
c. Analisis individu,
digunakan untuk mengetahui siapa yang membutuhkan pelatihan dalam organisasi
dan tipe-tipe khusus pelatihan yang dibutuhkan.
Kebutuhan pelatihan penelitian tindakan kelas
merupakan kebutuhan pengembangan diri dan kebutuhan belajar bagi guru.
Kebutuhan pengembangan diri guru mencakup kebutuhan mengaktualisasi diri untuk
menampilkan performance sesuai dengan tuntutan standar kompetensi guru
untuk mampu melakukan penelitian tindakan kelas dalam praktik pembelajarannya
di kelas. Kebutuhan belajar merupakan jarak antara tingkat pengetahuan,
keterampilan, nilai dan/atau sikap yang dimiliki guru saat ini dengan yang
seharusnya dimiliki oleh guru.
Menurut Friedman (1985: 4) kesenjangan antara
keadaan saat ini dengan keadaan yang diharapkan disebabkan oleh dua sifat yang
melekat dalam fungsi manusia, yaitu perubahan dan aspirasi. Perubahan merupakan
“dorongan” dan aspirasi adalah “tarikan” yang menimbulkan kebutuhan pada
pelatihan. Perubahan menciptakan masalah yang harus segera ditemukan solusinya,
sedangkan aspirasi cenderung mengarah ke tahap pertumbuhan untuk adanya nilai
tambah.
2. Pengembangan program
pelatihan (development)
Pengembangan program pelatihan merupakan upaya untuk
merancang atau menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pelatihan dan
pengembangan metode-metode pelatihan yang dibutuhkan guna mencapai tujuan
pelatihan. Metode pelatihan dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu:
a. Informational methods, metode yang menggunakan
pendekatan satu arah, dimana informasi disampaikan kepada peserta pelatihan
oleh instruktur. Metode ini cocok untuk mengajarkan materi faktual,
keterampilan, dan sikap. Beberapa teknik yang dapat digunakan dalam metode ini
adalah: (1) Ceramah, (2) Media audio dan video, (3) Belajar mandiri, dan (4) E-learning.
b. Experiential methods, metode yang
mengutamakan komunikasi yang luwes, fleksibel, lebih dinamis baik dengan
instruktur maupun sesama peserta dan langsung menggunakan alat-alat yang
tersedia. Metode ini digunakan untuk mengajarkan kemampuan kognitif dan
fisikal, serta kecakapan. Beberapa teknik yang dapat digunakan dalam metode ini
adalah: (1) On-the-job training, (2) Computer-based training, (3)
Demonstrasi, (4) Permainan, (5) Simulasi, (6) Studi kasus, (7) Sandiwara, dan
(8) Bermain peran.
Setiap metode pelatihan memiliki satu rana
pembelajaran yang utama meskipun terdapat juga rana pembelajaran penyerta
lainnya yang perlu dimiliki. Rana pembelajaran tersebut terdiri dari: (1) rana
kognitif atau perubahan pengetahuan, (2) rana afektif atau perubahan
sikap-perilaku, dan (3) rana psikomotorik atau perubahan/ peningkatan
keterampilan. Model pelatihan penelitian tindakan kelas yang baik tidak hanya
tertuju pada rana kognitif atau peningkatan pengetahuan guru mengenai
penelitian tindakan kelas, namun perlu juga mencakup pada rana afektif atau
perubahan sikap-perilaku guru untuk mengembangkan profesionalismenya secara
berkelanjutan melalui penelitian tindakan kelas dan rana psikomotorik atau
peningkatan keterampilan guru untuk melakukan penelitian tindakan kelas dalam
praktik pembelajarannya di kelas. Hal yang terpenting pada minat adalah
intensitasnya. Minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi.
Proses pelatihan penelitian tindakan kelas harus
sesuai dengan prinsip pembelajaran orang dewasa (andragogy), karena guru
sebagai peserta pelatihan tergolong orang dewasa. Knowles (1984: 44-45)
menjelaskan bahwa proses pembelajaran orang dewasa pada dasarnya menggunakan
beberapa asumsi, yaitu:
1. Orang dewasa telah
memiliki konsep diri dan tidak mudah untuk menerima konsep yang datang dari
luar dirinya, sehingga dalam proses pelatihannya perlu memperhatikan: (a) iklim
belajar disesuaikan dengan keadaan orang dewasa, (b) peserta pelatihan perlu
dilibatkan dalam mendiagnosis kebutuhan belajarnya, (c) peserta pelatihan perlu
dilibatkan dalam proses perencanaan belajarnya, (d) proses belajar merupakan
tanggung jawab bersama antara instruktur dan peserta, dan (e) evaluasi
belajarnya ditekankan pada evaluasi diri sendiri.
2. Orang dewasa telah memiliki pengalaman dan
berbeda-beda, sehingga proses pembelajarannya lebih ditekankan pada teknik yang
sifatnya menyadap pengalaman peserta pelatihan dan lebih ditekankan pada
aplikasi praktis.
3. Orang dewasa memiliki
perspektif waktu dan orientasi belajar, sehingga cenderung memiliki perspektif
untuk secepatnya mengaplikasikan hasil belajarnya. Sehingga dalam proses pembelajarannya,
instruktur berperan sebagai pemberi bantuan kepada peserta pelatihan dan
kurikulum tidak berorientasi pada mata pelajaran tetapi berorientasi pada
masalah.
Pendapat Knowles tersebut mengindikasikan bahwa
pendekatan pembelajaran yang tepat untuk digunakan dalam pelatihan tindakan
kelas bagi guru adalah pendekatan yang lebih menekankan terhadap kegiatan
pembelajaran partisipatif yang tinggi atau pendekatan yang mengikutsertakan
guru semaksimal mungkin dalam proses pelatihan. Peran instruktur dalam
pembelajaran partisipatif adalah sebagai fasilitator. Menurut Cain dan Comings
dalam Badu (2012: 44) menyatakan bahwa tujuan seorang fasilitator adalah: (a)
memaksimalkan peserta pelatihan; (b) membantu peserta pelatihan melihat seluruh
masalahnya dalam proses pengambilan suatu keputusan; dan (c) memberikan
keahlian teknis yang dibutuhkan peserta pelatihan, dalam memproduksi bahan ajar.
Ivancevich (2010: 396) menyatakan bahwa ada 6
prinsip cara belajar yang dapat diterapkan dalam pelatihan, yaitu: (1) Peserta
harus memiliki motivasi untuk belajar, (2) Peserta harus memiliki kemampuan
untuk belajar, (3) Proses pembelajaran harus diperkuat dengan pemberian
penghargaan kepada peserta yang berhasil mencapai tujuan pelatihan, (4) Materi
yang telah dipelajari dalam pelatihan harus dipraktikan, (5) Materi pelatihan
yang disajikan harus penuh arti dan dikomunikasikan secara efektif melalui metode
pembelajaran yang bervariasi, dan (6) Materi yang dipelajari harus ditransfer
ke pekerjaan. Prinsip-prinsip pembelajaran tersebut harus dapat diterapkan
dalam program pelatihan penelitian tindakan kelas, sehingga secara efektif
dapat mencapai tujuan pelatihan sesuai dengan yang telah ditentukan, yaitu guru
memiliki pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan dalam melakukan penelitian
tindakan kelas.
3. Evaluasi program
pelatihan (evaluation).
Bertujuan untuk menguji dan menilai apakah
program-program pelatihan yang telah dilaksanakan secara efektif mampu mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Indikator yang dapat digunakan untuk mengevaluasi
efektivitas pelatihan, yaitu: (a) Reaksi, seberapa baik peserta menyenangi
kegiatan pelatihan; (b) Belajar (learning), seberapa jauh para peserta
mempelajari fakta-fakta, prinsip-prinsip, dan pendekatan-pendekatan dalam
sebuah pelatihan; (c) Hasil-hasil, seberapa jauh perilaku peserta berubah
karena pelatihan; (d) Apakah ada peningkatan produktivitas atau penurunan yang
telah dicapai, dan (e) Efektivitas biaya, untuk mengetahui besarnya biaya yang
dihabiskan untuk program pelatihan dan apakah besarnya biaya pelatihan
sebanding dengan hasil program pelatihan.
Simamora (2001: 14-15) mengukapkan bahwa pengukuran
efektivitas pelatihan meliputi penilaian terhadap: (1) Reaksi-reaksi, yaitu
bagaimana perasaan partisipan terhadap program pelatihan; (2) Belajar, yaitu
pengetahuan, keahlian, dan sikap-sikap yang diperoleh sebagai hasil dari
pelatihan; (3) Perilaku, yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada pekerjaan
sebagai akibat dari pelatihan; dan (4) Hasil-hasil, yaitu dampak pelatihan pada
keseluruhan efektivitas organisasi atau pencapaian pada tujuan-tujuan
organisasional.
Bernardin (2010: 278) mengungkapkan ada 5 design
yang dapat digunakan untuk mengevaluasi program pelatihan, yaitu: (1) One-Shot
Posttest-Only Design, (2) One-Group Pretest-Posttets Design, (3) Posttest-Only
Control Group Design, (4) Pretest-Posttest Control Group Design, (5)
Multiple Time-Series Design. Dari 5 design evaluasi tersebut, One-Shot
Posttest-Only Design merupakan jenis design evaluasi yang paling tepat
untuk diterapkan dalam mengevaluasi program pelatihan penelitian tindakan kelas
di berbagai ;embaga sekolah karena guru yang mengikuti pelatihan dan
pendampingan adalah guru yang memang belum memiliki pengetahuan dan
keterampilan dalam melakukan penelitian tindakan kelas, sehingga tidak
memerlukan pretest dan kelompok kontrol untuk mengetahui pengetahuan dan
keterampilan guru dalam melakukan penelitian tindakan kelas sebelum mengikuti
pelatihan dan pendampingan.
Tujuan akhir setiap program pelatihan adalah adanya
transfer hasil belajar yang diperoleh selama proses pelatihan ke dalam
pekerjaan. Transfer pelatihan merupakan kegiatan secara berkelanjutan dan efektif
untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh dari suatu
pelatihan. Melalui pelatihan dan pendampingan penelitian tindakan kelas,
diharapkan guru mampu untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya
dalam melakukan penelitian tindakan kelas yang diperoleh selama pelatihan ke
dalam proses pembelajaran di kelasnya, sehingga dapat meningkatkan
profesionalisme guru dan kualitas pembelajarannya di kelas.
Pendampingan
Penelitian Tindakan Kelas
Salah satu faktor yang sering
dilupakan pada program pelatihan penelitian tindakan kelas bagi guru adalah
pendampingan. Pola pelatihan penelitian tindakan kelas
guru dengan praktik di kelas dan
pendampingan akan jauh lebih efektif daripada pelatihan dalam jumlah besar dan
dengan bentuk pengarahan.
Pendampingan dalam
program pelatihan tersebut dapat diartikan sebagai tindak lanjut dari pelatihan yang
telah diberikan, melalui interaksi yang terus-menerus antara instruktur/ pendamping
dengan guru
hingga guru
dianggap telah mampu untuk menyusun proposal dan laporan penelitian tindakan
kelas yang merupakan hasil reflektif dari permasalah pemebelajaran di kelasnya.
Pendampingan adalah proses saling berhubungan dalam
bentuk ikatan pertemanan antara pendamping dengan yang didampingi melalui
dialog kritis dan pendidikan berkelanjutan dalam rangka menggali dan
pengelolaan sumber daya guna memecahkan persoalan kehidupan secara bersama-sama
serta mendorong tumbuhnya keberanian untuk mengungkapkan realita yang
mengesampingkan dan melakukan aksi untuk merombaknya (Jamasy, 2009: 10). Salah
satu tugas utama seorang pendamping adalah memimpin dengan suatu pendekatan
tertentu yang dilakukan secara berkelanjutan, agar orang-orang yang didampingi termotivasi
untuk mampu dan bersedia melaksanakan tugas dan mencapai hasil yang terbaik.
Tingkat perkembangan guru merupakan hal terpenting dalam
menentukan perilaku pendampingan penelitian tindakan kelas. Ada 2 faktor yang menentukan
tingkat perkembangan guru dalam melakukan penelitian tindakan kelas, yaitu:
1. Kemampuan guru dalam melakukan
penelitian tindakan kelas. Faktor ini berhubungan dengan tingkat keahlian,
pengetahuan, kemampuan, dan bakat yang dimiliki setiap guru.
2. Kemauan guru dalam melakukan
penelitian tindakan kelas. Faktor ini berhubungan dengan tingkat semangat,
motivasi, minat, serta kepercayaan diri yang dimiliki setiap guru untuk melakukan
penelitian tindakan kelas.
Kedua faktor tersebut secara bersamaan menentukan
tingkat perkembangan kemampuan dan kemauan guru dalam melakukan penelitian
tindakan kelas. Mengadaptasi dari gaya kepemimpinan situasional menurut
Blanchard (2007: 105), ada 4 teknik pendampingan yang dapat diterapkan
pendamping berdasarkan tingkat perkembangan kemampuan dan kemauan guru dalam melakukan
penelitian tindakan kelas, yaitu:
1. Kemampuan Rendah –
Kemauan Tinggi
Guru memiliki minat dan motivasi yang tinggi untuk
mempelajari penelitian tindakan kelas, meskipun belum memiliki pengetahuan,
keahlian, dan keterampilan yang baik untuk melakukannya. Guru pada tingkat
perkembangan ini disebut pemula antusias. Hal tersebut biasa terjadi saat
pertama kali pelatihan diberikan. Teknik pendampingan yang sesuai dengan tingkat
perkembangan tersebut adalah mengarahkan (directing), yaitu banyak
memberi pengarahan dan sedikit memberi dorongan. Pendamping memberikan
pengarahan dan bimbingan kepada guru dalam melakukan penelitian tindakan kelas
secara intens, mulai dari mendiagnosis permasalahan dan sumber masalah
pembelajaran yang terjadi di kelas dan merefleksikan cara pemecahan masalahnya,
sampai cara menyusun proposal dan laporan hasil penelitian tindakan kelas
sesuai dengan prosedur dan sistematika yang berlaku.
2. Kemampuan Rendah-Sedang –
Kemauan Rendah
Hal yang sering terjadi pada peserta pelatihan
penelitian tindakan kelas saat proses praktik pelaksanaan penelitian tindakan
kelas di kelas yang diampunya adalah menurunnya minat dan motivasi guru untuk
terus mempelajari penelitian tersebut, karena mengalami kesulitan dalam
melakukannya. Guru pada tingkat perkembangan ini disebut pembelajar yang
frustasi. Teknik pendampingan yang tepat adalah melatih (coaching),
yaitu memberi banyak pengarahan dan dorongan. Pendamping lebih fokus
untuk memberikan arahan dan motivasi kepada guru. Pendamping dan guru harus
sering mendiskusikan setiap siklus penelitian tindakan kelas yang akan dan
telah dilakukan. Pendamping juga harus sering memberikan pujian dan penghargaan
agar dapat menumbuhkan kembali kepercayaan diri dan motivasi guru untuk
melakukan penelitian tindakan kelas..
3. Kemampuan Sedang-Tinggi –
Kemauan Tidak Menentu
Guru sudah memiliki cukup
pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan
baik, namun masih ragu terhadap pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya.
Guru pada tingkat perkembangan ini disebut pelaksana yang mampu tapi ragu-ragu.
Teknik pendampingan yang tepat adalah mendukung (supporting), yaitu sedikit
memberi pengarahan dan banyak memberi dorongan semangat. Pendamping hanya perlu
memberikan sedikit pengarahan, namun lebih sering memberikan motivasi melalui
pujian dan penghargaan untuk meningkatkan kepercayaan diri guru yang sedang
melemah.
4. Kemampuan Tinggi – Kemauan
Tinggi
Guru sudah memiliki pengetahuan dan
keterampilan serta minat dan motivasi yang tinggi dalam melakukan penelitian
tindakan kelas. Teknik pendampingan melimpahkan (delegating), yaitu
sedikit pengarahan dan dorongan semangat. Pendamping sudah tidak perlu
memberikan pengarahan dan motivasi kepada guru untuk melakukan penelitian
tindakan kelas. Pendamping hanya perlu memberikan beberapa fasilitas yang
dibutuhkan guru untuk memberikan kemudahan dan kelancaran dalam pelaksanaan
penelitian tindakan kelas.
Daftar Pustaka
Achmat, Z.
2010. Theory of Planned Behavior, Masihkah Relevan?.
http://zakarija.staff.umm.ac.id/files/2010/12/Theory-of-Planned-Behavior-masihkah-relevan1.pdf (Diunduh 6 April 2013).
Ajzen, I. 2005. Attitudes, Personality, and
Behaviour. Buckingham: Open University Press.
Badu, A. A.
M. 2012. “Pengembangan Model Pelatihan Pendampingan Dalam Rangka Peningkatan
Kompetensi Pendamping Pada Kelompok Usaha Konveksi di Kota Gorontalo”. Tesis.
Bandung: Program Pascasarjana UPI.
Bandyopadhyay,
K. dan Fraccastoro, K. A. 2007. “The Effect of Culture on User Acceptance of
Information Technology”. Communications of the Association for Information
Systems, Vol.ume 19 No.1. Article 23. Tersedia di: http://aisel.aisnet.org/cais/vol19/iss1/23
(diunduh 15 April 2013).
Bernardin,
J. 2010. Human Resource Management: An Expereintal Approach. New York:
The McGraw-Hill Companies, Inc.
Blanchard,
K. 2007. Leading At A Higher Level: Konsep Blanchard dalam Kepemimpinan dan
Bagaimana Menciptakan Perusahaan Berkinerja Tinggi. Jakarta: Elex Media
Komputindo.
Fathinah, F. K. dan Baridwan, Z. 2012. “Determinan
Minat Individu dan Pengaruhnya Terhadap Perilaku Penggunaan Sistem Informasi
Berbasis Teknologi Di Bank
Syariah”. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB, Volume 1 No. 1. Artikel 4.
Tersedia di: http://JIMFEB.UB.AC.ID
(diunduh 14 April 2013).
Friedman, P. G. 1985. Informal, Non-Formal and Formal
Education Programmes. London: YMCA George Williams College.
Handayani,
R. 2005. “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat
Pemanfaatan Sistem Informasi dan Penggunaan Sistem Informasi (Studi
Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Jakarta)”. Tesis.
Semarang: Program Pasca Sarjana UNDIP.
Ivancevich,
J. M. 2010. Human Resource Management. New York: The McGraw-Hill
Companies, Inc.
Jati, N. J.
dan Laksito, H. 2012. “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat
Pemanfaatan dan Penggunaan Sistem E-Ticket (Studi
Empiris Pada Biro Perjalanan Di Kota Semarang)”. Journal of Accounting,
Volume 1 No.2. Hal. 1-15.
Jamasy, O.
2009. Memahami Makna Pendampingan, Community Development dan Community
Organizing. Tersedia di:
http://www.comdevcentre.wordpress.com/2009/05/16/memahami-makna-pendampingan-Comunity-Development-dan-Comunity-Organizing
(diunduh 11 Maret 2013).
Kamil, M.
2010. Model Pendidikan dan Pelatihan: Konsep dan Aplikasi. Bandung:
Alfabeta.
Knowles, M.
1984. The Adult Learner: A Neglected Species. Houston: Gulf Publishing
Company Book Devision.
Nitiasih,
K. P, at al. 2010. “Pengembangan Model Pelatihan Penelitian Tindakan
Kelas Reflektif Berbasis Kompetensi”. Jurnal Penelitian dan Pengembangan
Pendidikan, Volume 4 No. 3. Hal 252-266.
Simamora,
H. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: YKPN.
Sudjana, S.
2007. Sistem & Manajemen Pelatihan: Teori dan Aplikasi. Bandung:
Falah Production.
Sulistiyani,
A. T., dan Rosidah. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia: Konsep, Teori, dan
Pengembangan dalam Konteks Organisasi Publik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Thompson,
R. L., Haggings, C. A., dan Howell, J. M. 1991. “Personal Computing: Toward a
Conceptual Model of Utilization”. MIS Quarterly, Volume 15 No. 1.
Hal.125-143. Tersedia di: http://www.jstor.org/stable/24944 (diunduh
15 April 2013).
Venkatesh, V. dan Davis, F.
D. 2000. ”A Theoritical Extension of the Technology Acceptance Model: Four
Longitudinal Field Studies”. Management Science, Volume 46 No. 2.
Hal.186-204. Tersedia di: http://www.jstor.org/stable/2634758
(diunduh 15 April 2013).
Venkatesh, V, at al.
2003. “User Acceptance of Information Technology: Toward a Unified View”.
MIS Querterly, Volume 27 No.3. Hal. 425-475. Tersedia di: http://www.jstor.org/stable/30036540
(diunduh 15 April 2013).
Wardono.
2011. “Kinerja Guru Matematika Pascasertifikasi Berbasis Kompetensi dan
Pengembangan Profesionalismenya Melalui CPD PTK Pada SMP Di Kota Semarang”.
Disertasi. Semarang: Program Pascasarjana UNNES.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar dengan Bijak